Addiction Fears to Esports Powerhouse

Kekhawatiran Kecanduan Menjadi Kekuatan Esports

Korea Selatan mengubah gim dari masalah sosial menjadi pemimpin industri esports global, mendorong ekspor, karier, dan pengaruh budaya.

Eliza Crichton-Stuart

Eliza Crichton-Stuart

Diperbarui Feb 2, 2026

Addiction Fears to Esports Powerhouse

Hubungan Korea Selatan dengan video game telah berubah drastis selama tiga dekade terakhir. Dulu dianggap sebagai masalah sosial yang perlu diatur, kini gaming menjadi salah satu ekspor budaya tersukses negara tersebut dan jalur karier yang layak bagi sebagian kecil pemain profesional yang terlihat. Pergeseran ini didorong oleh investasi infrastruktur, budaya kompetitif, dan pertumbuhan esports yang stabil sebagai hiburan dan industri.

Dari Kekhawatiran Sosial Menjadi Hiburan Mainstream

Pada awal tahun 2000-an, gaming di Korea Selatan sering dibicarakan bersamaan dengan kecanduan dan perilaku tidak sehat. Orang tua khawatir tentang waktu layar yang berlebihan, dan pembuat undang-undang memperkenalkan langkah-langkah seperti jam malam untuk anak di bawah umur. Kekhawatiran ini mencerminkan kegelisahan yang lebih luas tentang seberapa cepat game online menyebar, terutama di kalangan anak muda.

Persepsi tersebut telah melunak secara signifikan. Pada tahun 2024, Presiden Lee Jae Myung secara publik menyatakan bahwa game tidak boleh diperlakukan sebagai zat adiktif, menandai pergeseran kebijakan yang jelas dari upaya sebelumnya untuk mengatur gaming sebagai bahaya sosial. Pernyataan tersebut selaras dengan bagaimana gaming kini dipandang oleh sebagian besar publik: sebagai bentuk hiburan yang sah dan, dalam beberapa kasus, sebagai profesi.

Perubahan ini juga terlihat di tingkat rumah tangga. Pemain profesional seperti Son Si-woo, yang lebih dikenal sebagai Lehends, mengenang penolakan awal keluarga terhadap ambisi gaming. Keberhasilannya dalam kompetisi League of Legends akhirnya membantu meyakinkan orang tuanya bahwa gaming dapat mengarah pada peluang nyata, sebuah cerita yang mencerminkan penyesuaian budaya yang lebih luas di seluruh negeri.

Infrastruktur yang Membentuk Negara Gaming

Dominasi gaming Korea Selatan tidak terjadi secara kebetulan. Setelah krisis keuangan Asia pada akhir 1990-an, pemerintah banyak berinvestasi dalam infrastruktur internet berkecepatan tinggi. Hal ini membuat konektivitas online dapat diakses secara luas dan menjadi fondasi bagi gaming multipemain untuk berkembang.

PC bang, atau kafe internet, menjadi ciri khas budaya gaming Korea. Tarif per jam yang terjangkau dan koneksi yang andal menjadikannya pusat sosial tempat para pemain berkumpul untuk berkompetisi, menonton pertandingan, dan mengikuti tren yang sedang berkembang. Bahkan hingga saat ini, ribuan PC bang beroperasi di seluruh negeri, mempertahankan peran mereka sebagai titik masuk ke dalam gaming kompetitif.

Pada akhir tahun 2000-an, infrastruktur ini mendukung kebangkitan esports televisi. Game seperti StarCraft memenuhi arena, dan saluran siaran khusus memperlakukan pertandingan dengan struktur yang sama seperti olahraga tradisional. Sponsor perusahaan dari perusahaan besar membantu memformalkan liga dan menormalkan esports sebagai profesi.

Esports sebagai Karier, Bukan Jaminan

Akademi esports modern di Korea Selatan menyerupai pusat pelatihan berkinerja tinggi daripada klub gaming kasual. Pemain mengikuti jadwal ketat yang mencakup pertandingan latihan, analisis replay, diskusi strategi, dan pelatihan mental. Beberapa akademi juga menyediakan akomodasi dan rencana nutrisi, memperkuat gagasan bahwa pelatihan esports sebanding dengan atletik elit.

Meskipun pengaturannya profesional, peluang keberhasilan tetap rendah. Pemimpin industri memperkirakan bahwa hanya sekitar 1 hingga 2 persen peserta pelatihan yang akhirnya mendapatkan kontrak profesional atau pekerjaan terkait esports yang stabil. Mereka yang berhasil dapat memperoleh gaji tinggi melalui kontrak tim, hadiah kemenangan, dan sponsor, tetapi karier seringkali singkat dan sangat kompetitif.

Wajib militer bagi pria semakin memperpendek jendela karier, menambah tekanan untuk berkinerja sejak dini. Pemain yang gagal memenuhi harapan seringkali diharapkan untuk segera beralih, baik ke pendidikan atau peran terkait gaming lainnya seperti pelatihan atau analisis.

Kompetisi sebagai Pendorong Budaya

Keberhasilan Korea Selatan dalam esports global, terutama dalam League of Legends, sangat terkait dengan lingkungan kompetitifnya. Tim dari negara tersebut telah memenangkan mayoritas kejuaraan dunia, sebuah rekor yang sering dikaitkan dengan jadwal latihan yang ketat dan budaya kompetisi yang tertanam kuat.

Pejabat League menunjukkan bahwa pemain Korea biasanya berlatih lebih lama daripada rekan internasional mereka, dengan penekanan kuat pada disiplin dan fokus. Pendekatan ini telah menghasilkan hasil yang konsisten di level tertinggi, memperkuat reputasi Korea Selatan sebagai tolok ukur keunggulan esports.

Pada saat yang sama, pihak berwenang lebih sadar akan kesejahteraan pemain daripada di masa lalu. Kontrak pemuda yang terstandarisasi kini membatasi jam pelatihan resmi, dan pusat konseling yang didukung pemerintah ada bagi kaum muda yang berjuang dengan gaming berlebihan. Fokusnya telah bergeser dari pembatasan ke keseimbangan.

Gaming sebagai Mesin Ekonomi

Di luar esports, industri gaming yang lebih luas telah menjadi kontributor utama bagi ekonomi Korea Selatan. Antara tahun 2019 dan 2023, pasar gaming domestik tumbuh pesat, mencapai nilai hampir 23 triliun won. Ekspor meningkat dengan kecepatan yang sama, menjadikan gaming sebagai segmen terbesar dari ekspor budaya Korea, di depan musik dan film. Meskipun esports hanya mewakili sebagian kecil dari total pendapatan, ia memainkan peran yang sangat besar dalam pemasaran dan visibilitas global. Turnamen besar memperkenalkan audiens internasional ke tim, pemain, dan game Korea, memperkuat posisi negara tersebut baik dalam gaming tradisional maupun area yang sedang berkembang seperti inisiatif web3 gaming. 

Seiring esports terus bangkit dari hobi yang disalahpahami menjadi kekuatan ekonomi yang sah, ekosistem baru terbentuk di sekitar permainan kompetitif yang melampaui sponsor dan hadiah. Penggemar semakin terlibat dengan esports sebagai ekonomi interaktif—mengikuti tim, menganalisis pertandingan, dan berpartisipasi dalam pengalaman yang digerakkan oleh prediksi yang terkait dengan hasil kompetitif. Platform yang mengutamakan privasi seperti 0xNull mencerminkan pergeseran ini dengan memungkinkan pasar prediksi esports anonim tanpa KYC, memungkinkan penggemar untuk terlibat secara ekonomi dengan pengetahuan esports sambil mempertahankan kendali atas privasi mereka. Evolusi ini menyoroti bagaimana gaming bukan lagi sekadar hiburan, tetapi ekonomi digital yang mandiri yang didorong oleh partisipasi dan wawasan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Mengapa Korea Selatan begitu kuat dalam esports?
Korea Selatan diuntungkan dari investasi awal dalam infrastruktur internet, sejarah panjang esports televisi, dan budaya pelatihan kompetitif yang menekankan disiplin dan konsistensi.

Apakah pemain profesional dibayar dengan baik di Korea Selatan?
Pemain tingkat atas dapat memperoleh pendapatan enam digit melalui gaji, hadiah uang, dan sponsor, tetapi hanya sebagian kecil peserta pelatihan yang mencapai level ini.

Bagaimana cara kerja akademi gaming di Korea Selatan?
Akademi menyediakan pelatihan terstruktur yang mirip dengan program olahraga, termasuk jadwal latihan, pelatihan, dan analisis. Sebagian besar peserta pelatihan tidak menjadi profesional, tetapi beberapa beralih ke peran terkait.

Apakah gaming masih diatur di Korea Selatan?
Regulasi kini lebih berfokus pada kesejahteraan pemain daripada pembatasan. Jam pelatihan pemuda dibatasi, dan layanan konseling tersedia bagi mereka yang berjuang dengan gaming berlebihan.

Seberapa penting gaming bagi ekonomi Korea Selatan?
Gaming adalah salah satu industri ekspor budaya terbesar di Korea Selatan, menyumbang mayoritas ekspor konten dan berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Edukasi, Laporan

diperbarui

Februari 2. 2026

diposting

Februari 2. 2026